AMANAHSULTRA.ID : KENDARI – Belum lama ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) resmi mencabut 39 Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Kabarnya IUP yang dicabut tersebut tersebar di 7 Kabupaten di Sultra jumlahnya yakni,
7 Kabupaten di Sultra yakni, 2 IUP di Kolaka, 10 IUP di Konawe Utara (Konut), 9 IUP di Konawe, 7 IUP di Bombana, 2 IUP di Kolaka, 1 IUP di Kolaka Timur (Koltim), 6 IUP di Kolaka Utara (Kolut) dan 4 IUP di Buton.
Meski demikian, dalam proses pencabutan IUP tersebut rupanya tidak serta merta menghentikan aktivitas mereka.
Hal itu juga diungkapkan oleh Wakil Ketua Komisi III DPRD Sultra, Aksan Jaya Putra kepada Amanahsultra, Sabtu (14/5/2022).
Pria sapaan AJP ini mengungkapkan bahwa terkait pencabutan IUP tersebut pihak perusahan masih memiliki wewenang untuk melakukan aktivitas sembari menunggu putusan inkracht (telah berkekuatan hukum tetap).
Dimana kata Aksan, pihak perusahaan memiliki waktu selama 50 hari untuk melakukan sanggahan terhadap pencabutan IUP tersebut.
“Terkait pencabutan IUP itu, mereka dikasih kesempatan 50 hari untuk melakukan sanggah atau banding kepada pemerintah, “ungkapnya
Lanjutnya, “Saya kira kalau mereka masih melakukan aktivitas mungkin itu mereka sudah melakukan sanggahan sambil menunggu putusan inkracht. Jadi dari sisi penambangannya mereka masih punya hak sampai diputuskan IUPnya dicabut, “tambah AJP
Ketua Fraksi Golkar DPRD Sultra ini juga menyebut bahwa beberapa IUP yang dicabut itu, masih terdaftar dan tayang di situs Modi ESDM.
Artinya Aksan bilang IUP tersebut belum dicabut oleh dirjen ESDM.
“Kalau terkait sanksi susah juga kita sampaikan. Karena posisi mereka di Kementerian ESDM masih ada walupun pemerintah telah mengeluarkan surat terkait dengan pecabutan karena mereka mereka masih dikasih peluang melakukan sanggahan selama 50 hari, “jelas Aksan Jaya Putra
“Jadi mungkin dalam proses sanggahan banding 50 hari ini sah-sah saja kalau mereka masih melakukan penambangan karena sanggahannya masih berproses sambil menunggu putusan inkracht jadi seperti itu, “beber pemilik tagline Kendari Bisa ini
Untuk diketahui 39 Izin Usaha Pertambangan yang dicabut, selain di terbitkan oleh para Bupati, terdapat 8 IUP yang di terbitkan Kadis Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMTSP) Provinsi Sultra.
Kemudian juga terdapat 2 IUP yang diterbitkan Gubernur Sultra dan 1 IUP dikeluarkan Kepala BKPM atas nama Menteri ESDM.
Dalam surat keputusan pencabutan 39 perusahaan pemengang izin usaha pertambangan tersebut, tertanggal 03 Maret 2022 di Jakarta, ditandatangani Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia Atas nama Menteri ESDM, mewakili Pemerintah Republik Indonesia.
Dijelaskan bahwa berdasarkan pasal 119 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, Pemerintah dapat mencabut IUP, apabila tidak memenuhi kewajiban yang ditetapkan dalam IUP dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Selanjutnya, memperhatikan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 19 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 25 Tahun 2015 tentang Pendelegasian Wewenang Pemberian Perizinan Bidang Pertambangan Mineral dan Batubara Dalam Rangka Pelaksanaan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kepada Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal.
Peraturan Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 5 Tahun 2021 tentang Pedoman dan Tata Cara Pengawasan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, dan Surat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor: T-9/MB.03/MEM.B/2022 tanggai 06 Januari 2022.
Atas dasar itu, Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Pencabutan 39 IUP di Provinsi Sultra.
Selain mencabut IUP, Pemerintah juga memberikan menekanan dan ketentuan kepada mereka, yakni pelaku usaha sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan diwajibkan menyelesaikan masalah yang terkait dengan ketenaga kerjaan, menyelesaikan masalah fasilitas terhutang serta menyelesaikan seluruh kewajiban yang belum dilaksanakan sebelum dan setelah pencabutan izin Usaha Pertambangan.
Dilansir dari Media Indonesia, Kementerian Investasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), mengeluarkan surat tertanggal 11 Maret 2022, dengan nomor 66/A.9/B/2022, bersifat sangat penting, perihal pemberitahuan pencabutan Izin Usaha Pertambangan (IUP), ditandatangani Deputi bidang pelaksanaan penanaman modal Imam Soejoedi, ditujukan kepada seluruh kepala DPMPTSP pada 29 Provinsi di Indonesia.
Diantara 39 Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Sulawesi Tenggara yang telah dicabut, yakni:
1. Pencabutan izin nomor : 20220302-01-57701, Nama pelaku usaha PT Babarina Putra Sulung, nomor IUP : 08/DPM-PTSP/I/2018 yang diterbitkan Kadis PMTSP Sultra, tanggal 09 Januari 2018 berlokasi di Kabupaten Kolaka
2. Pencabutan izin nomor : 20220302-01-59213, Nama pelaku usaha PT Dharma Bumi Kendari, nomor IUP : 154 Tahun 2010 yang diterbitkan Bupati Kolaka, tanggal 12 April 2010.3.
3. Pencabutan izin nomor : 20220302-01-46849, Nama pelaku usaha PT Konawe Utara Indo Mineral Mining, Nomor IUP : 220 Tahun 2012 yang diterbitkan Bupati Konut, tanggal 24 Mei 2012.4.
4. Pencabutan izin nomor : 20220302-01-57440, Nama pelaku usaha PT Kembar Emas Sultra, nomor IUP : 321 Tahun 2011 yang diterbitkan Bupati Konut, tanggal 13 Juli 2011.5.
5. Pencabutan izin nomor : 20220302-01-79231, Nama pelaku usaha PT Madani Sejahtera, nomor IUP : 309 Tahun 2013 yang diterbitkan Bupati Konut, tanggal 3 juni 2013 (OL-13)
Penulis : Falonk